POWER RANGERS

POWER RANGERS

Tubuh raksasa penjahat tercerai, hancur lebur
Berkat beberapa sayatan pedang
Yang pemiliknya adalah sebuah robot,
Dia juga ikut membesar.
Tercipta oleh gabungan mobil beberapa pemuda dan pemudi.
Mereka tak sampai sepuluh banyaknya.
Mungkin sebanyak empat warna pelangi,
Ditambah warna malam dan campuran warna bendera kita, Indonesia.
“Hore, Penjahat kalah!” teriak bocah-bocah senang.
Ini acara menarik dari Amrik
Bagi bocah-bocah Indonesia,
Diputar setiap hari Minggu.
Bocah-bocah senang
Saat penjahat selesai ditebas dan mampus.
Tanpa segan, kadang mereka meniru
Gerakan pemuda-pemudi
Sebelum robot membesar.
Mereka akan merubah pakaian secara otomatis,
Dengan gerakan yang mungkin sudah
Mereka hafal bersama.
“Cepat berubah!” Teriakan bocah-bocah itu terdengar lagi.
Mereka menyuruh pemuda-pemudi
Untuk cepat berubah dengan gerakan terhafal mereka.
Penjahat sudah bertebaran lagi.
Mulai banyak muncul,
Mulai saling pukul,
Mulai menangkap ibu-ibu yang membawa serta anaknya di balik kulit perut,
Mulai mengacaukan bahasa orang-orang,
Mulai meratakan bangunan bertingkat,
Mulai menghisap cairan yang ada pada tubuh entah pada benda hidup ataupun mati.
Mulai membawa lari semua kehidupan,
Mulai mengenyangkan perut mereka dengan segala yang bisa dimakan,
Mulai berseru, pemerintahannya segera selesai terbentuk.
“Ayo cepat berubah! Mereka sudah rubuhkan semua”
Teriakan bocah-bocah itu makin kencang.
Akhirnya mereka berubah dengan gerakan terhafal.
Cepat juga mereka habisi penjahat-penjahat itu.
Bahkan saat membesar,
Mereka sukses menebas hingga tercerai hancur lebur
Tubuh raksasa penjahat itu.
“Hore, penjahat kalah”, teriak bocah-bocah melengking lagi.
Sampai-sampai mengguncang televisi saking senangnya
Hingga rasanya sampai juga ke tubuhku.
Televisi itu peninggalan semasa masih dijajah.
Pantas goyangannya agak rapuh.
“Bung, masih pagi nih, bendera kita belum selesai tergerek. Cepat sana beri hormat!”
Aku tersentak dari lamunan, tapi lebih tepat tidur.
“Cepat berubah!” Ini teriakan nyata.
Ternyata seruan dari nenek yang bersandar pada tiang Mall.
Sedang menenun bendera yang tiap hari dipakai untuk alas tidur.
Tubuhnya renta sekali lagi.
Habis dihisap malam.
“Ayo, cepat berubah. mereka sudah rubuhkan semua”.
Kali ini datang dari seorang bocah ingusan
Berbusana compang-camping.
Aku akhirnya ingat
Judul acara dari Amrik itu, Power Rangers.
Umurku sekarang sudah seperti mereka.
Suasana pun hampir beda,
Ada penjahat yang mulai bermunculan,
Mulai pukul saling,
Mulai menangkap ibu-ibu yang membawa serta anaknya di balik kulit perut,
Mulai mengacaukan bahasa orang-orang,
Mulai ratakan bangunan reot,
Mulai menghisap cairan yang ada pada tubuh entah pada benda hidup ataupun mati,
Mulai membawa lari semua kehidupan,
Mulai mengenyangkan perut mereka dengan segala yang bisa dimakan,
Mulai berseru, pemerintahannya segera selesai terbentuk.
Di sudut Mall, nenek dan cucu ingusannya menahan teriakan, “Hore, penjahat kalah”.
Jika nanti semua selesai dihabisi
Tahanan itu bisa dibebaskan.
“Bung, masih pagi nih. Kok sudah menunggu Power Rangers?
Televisi ini sudah mati terguncang
Sejak mereka tidak punya baju baru untuk berubah”.
Nenek dan cucu ingusannya masih duduk menunggu
Acara dari Amrik itu bangkit.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Puisi Dalam Antologi Puisi Terakota

Sumber: Puisi Dalam Antologi Puisi Terakota

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Puisi dalam Antologi Orang-orang Sandiwara,

DI SANA, HUMBA
Senduk dalam gelas kaca telah terendam lama.
Terlarut juga dalam kisah yang sedang terekam rasa,
Oleh telinga yang haus akan kisah tua,
Dari bibir yang tak letih bercerita.
Di sana, Humba…
Awal bibir berkisah tentangnya.
Ada seorang nenek berpanggilan Humba
Pada daratan berbentuk pulau, terpajang namanya.
Kini Humba tengah masuki berjuta telinga.
Di sana, Humba…
Bibir terus bercerita.
Ada katupan tangan di sekeliling pohon tertua,
Beralaskan batu raksasa, menaikkan asap untuk jiwa
Yang raganya termakan tanah sabana
Memohon restu dari Si Tua.
Di sana, Humba…
Tak letih bernostalgia.
Ada puluhan atap lancip tinggi, tempat berdiam dewi-dewa.
Di tengahnya berdiam ratusan nafas yang beraga,
Dengan pijakan pada tempat termakannya raga menyisakan jiwa.
Di sana, Humba…
Ada sabana, tempat kaki-kaki kuda
Serta penunggang meninggalkan jejak darah subur hasil pasola .
Pada seribu belah mata penuh siaga
Menanti jejak tertumpah dari raga.
Di sana, Humba…
Ada wangi yang hampir padam dari batang cendana,
Tumbuh pada tandusnya sabana.
Anugerah yang hampir lenyap dari kepala
Yang sudah mencium nyalanya.
Di sanalah, Humba…
Bibir menutup sepotong kisah penarik rindu ke sana
Dengan adukan senduk dalam gelas kaca.
Meminta telinga sendiri kecap rasa cerita
Pada ujung senduk pengaduk gula dalam gelas kaca.

Ledalero, 5 Agustus 2014

MERINDUKANMU ADALAH KETIKA…

Merindukanmu
Adalah ketika hujan meredupkan
Butirannya yang nampak lelah
Mengguyur debu yang sudah lama mengering.

Merindukanmu
Adalah ketika mentari mengeringkan
Embun sisa yang sudah semalaman bertengger
Pada daun-daun yang sudah lama kerontang.

Merindukanmu
Adalah ketika kicau burung meramaikan
Pagi yang nampak suntuk.

Merindukanmu
Adalah ketika bulan meminta sepercik sinar dari matahari
Dan menerangi malam yang sudah bosan mendengar kerikan
Binatang malam.

Merindukanmu
Adalah ketika tangan mencoret
Kertas yang sudah menanti aksara.

Merindukanmu
Adalah ketika selaksa kaki meninggalkan jejak
Pada debu yang basah.

Merindukanmu
Adalah ketika jejak yang tertinggal menanti butiran hujan
Untuk menyegarkan gambarnya.

Merindukanmu
Adalah ketika mendung yang hanya menggoda debu.
Merindukanmu adalah ketika…….

Ledalero, 11 November 2014

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Puisi Dalam Antologi Puisi Terakota

 LUKISAN MALAM MALAKA[1]

Senja baru saja berlalu.

Sebelum teriakan sore si Jago bertalu,

Tangannya masih setia menggenggam kuas

Yang semakin asyik menari pada kanvas

Melenggokkan sebait syair tentang tanah.

Tanah yang takkan layu.

Lukisan tentangmu belum berakhir,

Selama aksara belum mati dan tamat

Malam masih berlangsung

Sebelum suara malam terdendang

Tangannya masih saja setia.

Bahkan makin banyak tangan yang ikut

Menggenggam kuas untuk melukismu,

Tanah yang semakin bercahaya.

28 Oktober 2014

 

 

[1] Malaka adalah salah satu kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Malaka merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Belu yang disahkan dalam sidang paripurna DPR RI pada 14 Desember 2012 di gedung DPR RI tentang Rancangan UU Daerah Otonomi Baru (DOB).

Dipublikasi di Tak Berkategori | 1 Komentar

Halo dunia!

Ini adalah pos pertama Anda. Klik tautan Sunting untuk mengubah atau menghapusnya, atau mulai pos baru. Jika Anda menyukai, gunakan pos ini untuk menjelaskan kepada pembaca mengapa Anda memulai blog ini dan apa rencana Anda dengan blog ini.

Selamat blogging!

| Meninggalkan komentar